Pribadi Bermental Status


Semenjak media sosial mencantumkan postingan, setiap hari pemiliknya berlomba- loba membuat postingan. Postingan tersebut tadinya hanya sebatas tulisan, lalu berkembang lagi sehingga teman bisa berkomentar di postingan tersebut.


Adapun cara berkomunikasi saat itu hanya bisa lewat sms dan telepon, atau lewat video messenger.


Setelah muncul balckbary lalu disusul android, maka postingan yang tadinya hanya di media sosial (facebook) dipindah ke sebuah aplikasi. Aplikasi tersebut juga yang akhirnya menggantikan sistem berkirim pesan (SMS) di hape yang sebelumnya menggunakan sinyal 2G. Aplikasi tersebut adalah WhatsApp.


Sebagai sarana berkirim pesan, WA juga bisa menuliskan postingan atau yang kini dikenal dengan sebutan "status". Apapun bisa dijadikan status. Tulisan, gambar bahkan video. Durasi tayangan perstatus 30 detik, jangka waktunya dibatasi hanya 24 jam saja, setelah itu status yang dibuat secara otomatis akan dihapus oleh sistem.


Status yang dibuat pemilik aplikasi tak terbatas. Selagi sempat dan mampu, kenapa tidak. Bahkan status juga beragam isinya, tergantung si pemiliknya. Ada yang isinya personal beranding, ada yang jualan produk, ada yang pamer, ada yang aktualisasi diri bahkan sampai membuka aibnya sendiri.


Bahkan, baru-baru ini. Kebanyakan pemilik aplikasi WA sudah dibilang tidak lagi seperti di atas. Malahan bisa dibilang "sok bijak" dalam membuat status. Padahal faktanya ialah, kata-kata bijak tersebut hanya dicomot dari sebagain sumber lalu dipilih mana yang sekiranya sesuai dengan kebutuhan dirinya untuk dijadikan bahan berapologi. 


Paling sering sih, kata-kata bijak yang dijadikan status tersebut digunakan untuk menyindir orang lain. Apakah kamu salah satu dari pelakunya? 


Lebih mirisnya lagi, adanya perang dingin akibat dari sindir menyindir di status tersebut. Hingga akhirnya banyak yang terjebak di dunia sosial yang tak sehat. 


Mentalnya terganggu, hubungan dan komunikasi sosialnya terganggu. Apa-apa diluapkan dalam status. Sehingga mentalnya pun berubah, penjadi pribadi bermentalkan status. 


Padahal masalah yang kecil dan sepele tersebut bisa dibicarakan dan diselesaikan oleh kedua belah pihak dengan saling bertatap muka (duduk bersama menemukan solusinya). 


Tetapi, karena masalah yang kecil tersebut dijadikan status, maka akhirnya membara. Seolah membuat kobaran api yang menyala-nyala. Menyulut siapa saja yang membacanya. Hingga akhirnya masyarakat terbagi menjadi dua. Ada yang pro dan kontra.


Adapun mereka yang tak mau ikut campur, memilih untuk diam saja. Hanya bisa berdoa, semoga kedua belah pihak yang bertikai bisa segera sadar. /Amha.


___

Posting Komentar

0 Komentar