Carilah yang Sudah Matang


Dalam beberapa kesempatan, ketika ditanya tentang tipe pasangan yang ideal, maka jawaban sederhan saya adalah "Cari yang matang". Maksudnya matang gimana? Baik, saya coba uraikan sesuai dgn apa yang ada dalam persepsi pikiran ini.

Pertama, kita pahami dulu apa itu pengertian matang. Matang itu biasa digunakan untuk sesuatu yang tadinya kita sebut mentah atau belum layak konsumsi menjadi layak dikonsumsi. Berarti disana ada proses perubahan, baik itu warna, rasa bahkan terksturnya juga. Itulah sebabnya rasa buah yang mentah dengan yang matang berbeda. Ada "kualitas" di dalamnya, proses itulah yang seolah menjadi kelas pemisah. Matang alami di pohon dengan matang setelah dipetik, tentu ada bedanya juga.

Selain makna ini, kata matang juga sering kita gunakan dalam beberapa padanan kata, misalnya dalam kalimat "Kalo sudah usianya 40 tahun itu termasuk usia matang lho..." Dalam kalimat tersebut, kata matang diartikan sebagai sesuatu yang sempurna, ajeg, konsisten dan tidak berubah-ubah. Atau, titik puncak kesempurnaan dari makhluk itu sendiri.

Dengan demikian, maka matang itu sesuatu hal yang positif. Puncak tertinggi sebuah hatapan adalah ketika sampai pada titik tertinggi dan tidak ada lagi level selanjutnya. Dan kata matang merupakan kata puncak dari itu semua. Buah yang sudah matang, pasti endingnya adalah ranum (menuju proses busuk, menghitam, dan hancur). Ini sih, hanya persepsi makna dari saya pribadi heehee..

Intinya, banyak banget yang matang tapi "matang karbitan". Matang karbitan itu, matang yang disebabkan karena proses pematangan di bawah pohon dengan menggunakan karbit, atau dipendam di dalam tanah lalu dikasih api supaya panas.

Tujuan akhir yang ingin dicapai dan terlaksana. Buah yang diingini sudah matang, dan bisa dimakan. Tapi, tetap saja tidak sama dengan yang matang secara alamiah. Maksudnya apa? Banyak orang yang berakting seolah sudah matang, tetapi sejatinya masih mentah. Ini bisa terbongkar ketika ujian itu datang. "Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang..."

Selama ini berkamuflase dalam mulut manis, dan kalimat-kalimat penuh intrik. "Iyah aku mau kok hidup bersamamu baik dalam keadaan senang maupun susah..." kata calon istri. Tiga bulan kemudian pasca menikah, suaminya di PHK. Lalu, sikap istrinya berubah 360 derajat..

Atau yang paling sering terjadi, karena sudah hidup bersama-sama selama satu atau dua tahun. Muncullah rasa biasa dan bosan. Buruknya, mencari pelampiasan di medsos dan saling punya selingkuhan. Lalu, keduanya sepakat bercerai, Naudzubillah.

Inilah kejadian zaman sekarang, yang sering dipertontonkan.
___


Posting Komentar

0 Komentar