Pagi itu, 16 Mei 2025 suasana menyejukkan. Sekitar pukul enam pagi, dikabari istri (yang sedang mengandung) sudah mulai mengalami rasa mulas. Tadinya sih, cuma mulas ingin BAB. Setelah beres Bab barulah ada mules yang lain, tidak seperti mulas diawal. Pokoknya agak lain.
Mendapati laporan dari POLDA (Polisi Dapur) secepat kilat mengambil surat-surat yang sudah disediakan. Sebab masalah administrasi menjadi hal yang wajib dilengkapi sebagai langkah awal. Kartu Keluarga, KTP dan BPJS sudah lengkap, termasuk buku pink juga. (Bagi yang belum tahu, buku pink itu didapat dari posyandu atau puskesmas, setelah dinyatakan hamil; juga sebagai data perkembangan ibu dan cabang bayinya).
Baju bayi dan perlengkapan pasca lahiran sudah disiapkan semua dalam satu tas. Waktu itu, yang belum sempat disediakan ialah pampers dewasa. Soalnya masih ragu, perlu pakai atau enggak. Cukup pakai pembalut yang ukuran besar juga sudah teratasi, begitu sih info dari istri.
Sambil menunggu rasa mulas yang tak tentu itu, dialihkan dengan berbagai kegiatan. Seperti mandiin Hayyin dan Ayyub, lalu dilanjut ngepel dan nyapu rumah.
Tadinya sempat bingung terkait anak-anak. Apakah ditinggal saja di rumah, lalu minta tolong teteh untuk jagain? Opsi kedua, dititipkan saja ke rumah yang di Pancur. Tetapi setelah dirasa kurang pas dan banyak resiko, akhirnya mengambil opsi ketiga, yaitu tetap anak-anak dibawa ke puskesmas.
Pagi itu, mungkin penduduk yang melihat kami mau sekedar jalan-jalan atau mau mudik seperti biasanya. Karena setiap seminggu sekali atau dua minggu sekali, selalu mudik ke Pancur dengan bawaan barang yang lumayan banyak. Jadi, pagi itu pas lihat demikian tak banyak yang nanya, tujuan kami ke mana.
Setiba di puskesmas, dibantu bidan yang piket. Langsung diarahkan ke kamar bersalin. Bidan yang piket juga mengabari jika semalam ada pasien, sekitaran pukul tiga pagi datangnya. Kondisi bayinya sungsang; papar bu bidan. Setelah ditelisik, ternyata berasal dari tetangga kampung, katanya sih dari Kampung Pasircau.
Setelah tiduran di atas ranjang bersalain, yang berkaitan pakaian bawah dilepas. Pasien disuruh bajunya digulung, cukup pakai penutup atau kain saja bawahnya. Semuanya ada ditas, tinggal disesuaikan dengan intruksi bu bidan.
Anak-anak tidak boleh masuk. Beruntungnya, anak-anak sangat mudah diarahkan dan dikondisikan. Meski di luar ruangan dan terpisah dengan Ummanya, tak banyak drama. Padahal, jika di rumah kalau matanya tidak melihat sang Ibu di depan mata, langsung nyari dan nanya. "Umma mana?..." Semua tempat dilihat, untuk memastikan keberadaan orang yang dicarinya.
Mereka main di luar ruangan, mau main dan kompak. Pokoknya tidak banyak drama, titik. Makanan, berupa gorengan, getuk, ketan, risol dan dadar gulung kebetulan dibelikan. Minum juga disediakan. Jadinya semua aman. Paling yang agak risih itu, anak yang kedua masih dalam tahap belajar tanpa pampers. Jadinya agak khawatir jika sewaktu-waktu ngompol. Untungnya tidak terjadi dan segera dipipiskan ketika dapat momennya.
Tidak sampai sejam di puskesmas, rasa mulas semakin rapat. Hingga sampai pada titik dimana rasa mulas yang teramat lalu disertai dengan seolah ada dorongan dari dalam, lalu ketuban itu pecah. Segera memanggil bidan, dan mengabari jika ketubannya sudah pecah.
Bidan masuk dan memeriksa kondisi pembukaan. Setelah dicek dan hasilnya sempurna, beberapa detik kemudian kepala bayi sudah mulai nampak, ingin keluar. Padahal belum muncul rasa mulas dan dorongan untuk nge-den. Tapi, karena sudah tanggung dipaksa sama bidan buat nge-den, soalnya kepalanya sudah kelihatan mau keluar.
Alhasil, sekali nge-den sang bayi langsung keluar dan diiringi tangisan bayi yang khas, pasca melahirkan. Dalam rangka mengabadikan waktu kejadian, hape yang sedari tadi di atas ranjang, seketika dinyalakan dan diskrinsut. Tak lain, untuk mengabadikan waktu kelahiran saja, biar tidak lupa nantinya. Di sana sudah sagat jelas, pukul 08.46 wib. Tgl 16 Mei 2025.
PASIEN BARU
Tidak sampai 15 menit, pasca lahiran. Kami dipindahkan ke ruang nifas. Pasalnya ada pasien dari desa Paniis yang mau lahiran juga. Katanya sih sudah pembukaan lengkap juga. Tapi pasien tadi pas datang, langsung dibawa ke ruang nifas, karena masih ada kami di ruangan bersalin.
Pindah. Turun ranjang, naik kursi roda. Kursi rodanya kotor, sehingga harus dibersihkan dahulu. Bayi ditinggal, masih di ruang bersalin dulu, soalnya dorong istri ke ruang nipas. Begitu beres nurunin dan naikin ke ranjang, barulah bayi disusul. Botol minum juga endingnya ketinggal di ruang bersalin, dan minta tolong ke salah satu ibu yang ada di dalam untuk mengambilkan.
Ternyata, suami dari pasien yang melahirkan itu kebetulan kenal. Orang Nanggor terminal, tahu masa kecil dan sekolahnya. Kami juga ngobrol sebentar di samping ruang antrian yang kebetulan pasien hari jumat tidak sebanyak atau seramai hari lainnya. Kesamaan kami, yaitu sama-sama melahirkan anak yang ketiga.
Tapi, pas ditanya jenis kelamin anaknya dia tiak tahu persis. Padahal istrinya suka USG juga katanya. Tetapi tidak terlalu kepo dengan jenis kelamin sang jabang bayinya. Istrinya dari pasir kupa anak yang pertama sudah kelas 5 SD, adapun anak kedua sudah sekolah Paud. Info yang didapat dari obrolan kami sesama bapak-bapak yang punya tiga anak.
Obrolan kami berakhir, setelah Uwo atau Udiro merasa "araraseum" Mulut, sudab kebelet kepengen ngudud alias ngabako bin ngerokok. Karena puskesmas tempat bebas dari asap rokok, mau tak mau, jika ingin menjadi ahli hisap mesti keluar dari area puskesmas.
PULANG
Selepas pindah ke ruang nifas, dan dirasa durasi waktu yang sudah ditentukan bidan berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Darah yang keluar, ibu bayi dan bayi semuanya aman. Kaki pesan mobil melalui aplikasi. Tak lama langsung ada yang merespon dan bersedia menjemput ke puskesmas.
Sekitar pukul 12.00 kami pulang. Hari itu Jumat, tepat bapak-bapak sedang melaksanakan jumatan. Tiba di rumah, yang jumatan juga belum pada pulang.
Ongkos mobil lebih murah, dibawah gocap kalau tidak salah waktu itu. Bayi digendong Uwa Ojah, Ayyub ikut Umma di mobil. Diajak naik motor, gak mau. Nangis, ingin ikut umma ajah.
Dari puskesmas bawa motor sendiri. Bawa barang bekas lahiran dan berkas-berkas yang dipersiapkan pralahiean, kembali dibawa pulang.
Setiba di rumah, warga pada ramai. "Iih bisaan, ja teu rame-rame..." Begitulah masyararakat yang seolah menyanjung. Memang, kami dari awal anak pertama niatnya gak mau merepotkan siapa pun. Jika bisa sendiri, apa salahnya dilakukan sendiri. Bukan bermaksud gimana-gimana, tetapi kamk itu lebih gak enak jika ngerepotin orang.
Sebuah nama sudah disiapkan, hanya saja belum lengkap potongan puzzel-nya. Masih perlu dirangkai dan ditimbang dari berbagai sudut keilmuan. Dari segi bahasa, nahwu, shorof, arti dan sisi filosofisnya juga tak boleh ketinggalan. Pokoknya nama yang disiapkan menggambarkan sebuah perjalanan hidup. Bagaimana tempaan, pandangan hidup, menakar masalah dan solusinya, termasuk memahami kewiraian seseorang.
Namanya keren!!!
____


0 Komentar