Amin, Anis-Muhaimin. Perubahan... perubahan... dan perubahan... Dijawab oleh audien dengan teriakan amiin... dengan keras dan lantang.
Tak kalah dengan Amin. Kubu Ganjar dan Mahfudz juga memiliki guyonan khasnya. Setelah selesai berdoa, sang pemimpin doa tersebut mengucapkan "Ganjaran itu sudah dicatat di Lauhil Mahfudz..." Sorak tepuk tangan para pendukung pun makin riuh dan tersenyum dengan puas.
Dua guyonan di atas sudah jadi ciri khas masing-masing. Entah dengan calon yang ketiga. Tampaknya masih dalam suasana lobi-lobi politik. Banyak aspek yang dijadikan pertimbangan. Saat tulisan ini dibuat, Prabowo belum menetukan siapa wakilnya.
Hingga dimana akhirnya pilihan itu pun diumumkan. Tapi, pasangan Prabowo dan Gibran tak ada slogan spesial. Tapi mereka punya panggilan unik yang mudah dicerna ran melekat kuat, sebutan itu ialah si "Gemoy".
Pasalon Capres dan Cawapres sudah memiliki nomor urut masing-masing. Paslon Anis-Muhaimin sebagai nomor urut satu, Ganjar-Mahfud nomor urut dua dan Prabowo-Gibran nomor urut tiga.
Ketiganya sudah mulai bermanuver, bergeriliya menebar janji dan pesona. Lembaga survei sudah bermunculan dengan kalkulasi dan persentasenya masing-masing. Meskipun ada sebagian paslon yang tak menganggap penting hasil data survei tersebut.
Baru-baru ini makin santer diberitakan bahwa salah satu paslon akan menang dalam satu putaran. Menurut beberapa sumber lembaga survei. Meski hasil datanya masih diperdebatkan, tentunya tiap orang punya sudut pandang berbeda dalam mensikapinya.
Isu keterlibatan "orang dalam" juga semakin memanas. Bahkan tak lagi jadi rahasia melainkan sudah menjadi konsumsi umum, bagaimana sindir menyindir antar elit semakin tampak.
Dampaknya (lagi) para pendukung fanatik yang berbuat liar. Saling lapor dan balik lapor. Saling tuduh menuduh ujungnya bikin gaduh. Suasana perpolitikan malah semakin riuh bukannya dibuat teduh.
Sebagai bangsa yang telah merdeka hampir satu abad, idelanya banyak pelajaran yang didapat, diambil hikmat serta manfaat. Bukan malah semakin jauh dari rahmat apalagi masyarakat yang bermartabat.
Hal ini terjadi karena rusaknya mental mereka yang ngakunya seorang pejabat. Bukannya membuat maslahat, ini mah malah bikin rakyat melarat. Hanya mementingkan nafsu sesaat, memperkaya diri dan sejawat tak lupa juga kerabat. Inilah salah satu tanda-tanda kiamat sudah dekat.
___Amha


0 Komentar