JIKA kita belajar ilmu hadits, di sana dijelaskan terkait kedudukan haditsnya, matannya, bahkan kepada perawinya itu sendiri. Kedudukan hadits bisa berubah satatusnya diakibatkan karena ada kecacatan dalam perawinya. Misal perawinya tidak tsiqah, atau hafalannya lemah.
Itulah kenapa kitab hadits punya Imam Bukhari dan Muslim menempati kitab yang paling tinggi derajatnya dibanding kitab hadits punya Imam yang lain.
Selain karena selektif dalam pemilihan haditsnya, perawi yang meriwayatkan hadits tersebut juga dapat diakui ke-tsiqah-annya, hafalannya, kejujurannya dan kesolehannya sudah pasti. Pokoknya bukan orang biasa atau kaleng-kaleng.
Sebab itu, maka ketika kita menulis atau mengutip sesuatu dari tulisan atau ucapan orang lain harus dicantumkan sumbernya. Sebagaimana karya ilmiah. Itulah kenapa, pola penulisan hadits itu menjadi yang paling terilmiah di dunia, dan menjadi rujukan nomor dua setelah kitab Al-Qur'an.
Pada zaman dan abad sekian, para ulama sudah berpikir sejauh itu. Berpikir keilmuan yang bisa dipakai sepanjang masa, jauh melampaui zamannya. Semua itu, berkat bimbingan sang kuasa. Mengapa bisa demkian? Sebab mereka melibatkan Allah dalam karya-karyanya.
Ide mereka lahir dari ilham sang mahakuasa. Lahir setelah bermunajat dan taqarub ila allah. Tidak lepas dari hadats kecil, banyak berpuasa dan satu hal yang diingat, bukan untuk cari nama. Ikhlas tujuan ilmu dan mendapat pahala dariNya. Bukan berharap tentang yang lainnya.
Sekarang, bagaimana dengan kita? Jauh bangetkan? Banyaknya yang asal comot dan tidak menerapkan secara ilmiah. Hasilnya ya, jadi semrawut.
Menulis karena ada yang membayar. Jadilah menulis bayaran sebagai mata pencaharian. Jika tulisannya tentang yang baik dan keilmuan tetap baik. Tetapi ada yang tidak baik, mereka sengaja menulis yang sifatnya mengadu domba dan memecah belah umat. Naudzubillah...
Amal perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan kelak. Termasuk apa yang kita tulis. Allahu'alam.[]
_

0 Komentar