Idealisme merupakan sebuah sikap yang dimiliki oleh individu tertentu, sehingga yang bersagkutan memegang teguh apa yang menjadi pandangannya tersebut dengan kuat. Bahkan jadi pijakan kuat kakinya dalam melangkah. Dalam pengertian bebas penulis, bisa juga idealisme itu diartikan sebagai prinsip. 


Argumen-argumen yang coba menyerang idealismenya sudah tentu dibantah dengan dalil yang ia miliki. Bahkan segudang jawaban sudah ada dalam benaknya.


Bila idealisme sudah menyatu dengan dirinya maka tindak tanduknya terkontrol secara otomatis. Memilih apa yang sesuai dengan idelaismenya dan mengabaikan apa yang tidak sesuai dengan idelismenya, meskipun dianggap bertentangan dengan pihak lain.


Ada sebagian yang coba berdamai dengan menggunakan jurus seolah "setuju" dengan kebanyakan orang, tetapi hakikatnya tetap tidak setuju. Hal itu dilakukan untuk menghindari perdebatan bahkan pertikaian. Mengalah untuk menang, begitulah rumus idelisme yang kedua berlaku.


Idealisme yang Korosi


Idealisme bisa mengalami "korosi", Layaknya besi yang "dimakan" oleh karat. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya faktor finansial, nepotis, dan salah pergaulan. Contohnya paling mudahnya pisau yang tajam, bila tak diasah dan dibiarkan begitu saja akan mengalami penumpulan. Bahkan bisa berkarat dan rusak.


Analogi yang bisa penulis jabarkan untuk menggambarkan situasi di atas yaitu adanya salah satu mahasiswa yang ketika itu boleh dibilang idealismenya konsisten. Apapun yang tak sesuai dengan idelaismenya akan digebuk, diseruduk bahkan diteror. 


Seriring berjalannya waktu. Masa-masa menjadi mahasiswa hanya seumur jagung. Finansial yang tadinya mengalir mulai mengalami penyumbatan bahkan  sumbernya mulai kering kerontang. Mau tak mau, yang bersangktan memutar otak untuk menyetabilkan anggaran finansialnya. Jika idelaismenya tetap dijunjung dan digenggam kuat, maka ia harus rela gigit jari.


Tetapi bila idelaismenya ia kesampingkan bahkan dihapuskan tentu finansial yang tadinya surut kembali normal. Bahakan bisa saja malah bertambah menjadi tumpukan. Alhasil, praktik yang tadinya berebrangan dengan idealismenya menjadi kawan bukan lagi menjadi lawan.


Tak hanya itu, keluarganya juga diajak untuk menjadi bagian kepanjangan tangan dari kawan barunya tersebut. Idealisme yang tadinya menjadi penjaga dirinya kini berbalik menjadi musuh yang pertama kali dibunuhnya. 


Jika idealisme itu seperti makhluk gentayangan, bukan tidak mungkin ia akan seperti hantu gentayangan yang menuntut balas kepada siapa yang membunuhnya. (Meskipun analogi ini hanya ada di film-film horor). /Amha.


___